Makanan merupakan salah satu unsur krusial dalam hubungan suami istri. Selain merupakan salah satu kebutuhan hidup, makanan juga merupakan salah satu tanda sayang dan perhatian istri kepada suaminya.
Muhammad Rasyid Al ‘Uwaid dalam kitab “Risalatun ilaa Mu’minatin, Laa Tanqushuha Shoroohah: Risalah Mukminah, Jangan Terpedaya” menyebutkan bahwa salah satu penyebab perceraian adalah makanan. Banyak suami yang menganiaya istrinya hanya karena belum disediakan makan ketika pulang. Atau kurang terampilnya istri dalam mengolah menu sehingga hidangan yang tersaji hanya itu-itu saja.
Hal tersebut dapat dilihat sejak istri masih gadis, yaitu ketika ia melatih kemampuan memasaknya. Saat ini, tak jarang perempuan yang belum menikah menyepelekan urusan memasak. Mereka lebih mengedepankan fashion dan mode. Bahkan, banyak yang berkubang pada aktifitas pekerjaan lain yang menyita waktunya sehingga mempersempit waktu untuk belajar memasak.
Menurut Al ‘Uwaid, penyebab para gadis ini malas belajar memasak adalah akibat pengaruh keluarga (terutama ibu), sekolah, dan media informasi. Banyak alasan ibu membiarkan anaknya tidak belajar memasak, antara lain: sudah capek belajar, anak memiliki banyak kegiatan yang menunjang prestasinya, anggapan bahwa toh, setelah menikah anaknya bisa belajar memasak sendiri.
Saat ini kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah umum minim pengetahuan tentang memasak. Itupun masuk dalam mata pelajaran mulok (muatan lokal) dan hanya bersifat teoritis, jadi tidak semua sekolah menerapkan mata pelajaran ini. Jika pun ada sekolah yang mengkhususkan pelajaran memasak, maka itu hanyalah sekolah-sekolah kejuruan yang memang menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidang kuliner.
Sedangkan pengaruh media adalah mininimnya tayangan kuliner yang bersifat mendidik para gadis dan menggugah mereka untuk meningkatkan kreatifitas memasak.
Selain itu, kurangnya pengetahuan para istri dan calon istri tentang makanan yang halal dan thoyib (baik) juga mempengaruhi karakteristik anggota keluarganya. Seperti yang kita tahu, makanan yang kita makan adalah energi bagi kita. Apa jadinya, jika makanan itu tidak halal dan tidak thoyib? Tentunya tubuh kita terdzalimi dan hal ini berpengaruh buruk terhadap aktifitas yang kita lakukan.
Maka, jangan salahkan suami yang marah-marah ketika ia pulang kerja sang istri belum menyediakan hidangan. Suami sudah capek bekerja seharian, istri tidak menyambut dengan baik. Jangan pula mengandalkan masakan cepat saji yang dapat dibeli dengan mudah di warteg atau restoran termahal sekalipun, karena selain boros, masakan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kehalalan dan kethoyibbannya.