Tahun 1903, pelatih atletik nasional Inggris bilang, “Rekor lari satu mil adalah 4:12:75 detik. Rekor itu tidak mungkin terpecahkan.” Sejak saat itu, semua orang meyakini, tidak akan pernah ada yang mampu melampaui rekor itu. Alasannya: kemampuan organ tubuh manusia terbatas. Dan kenyataannya, memang tidak ada yang mendobrak dengan perolehan waktu di bawah empat menit.
Tahun 1994, Roger Bannister (mahasiswa kedokteran di Universitas Oxford) ingin mengetahui batas maksimal kemampuan berlari, sekaligus bercita-cita melampaui rekor lari yang belum pernah terpatahkan itu.
Banister menyusun strategi dan berusaha keras. Tak sia-sia. Dia berhasil. Dia membukukan waktu kurang dari empat menit untuk jarak satu mil! Yang tak kalah mengejutkan, tiga puluh hari setelah itu, ada 32 orang yang berhasil mencatatkan waktu berlari kurang dari empat menit untuk jarak yang sama. Setahun kemudian, jumlah itu bertambah dan menjadi 317 orang.
Kenyataan itu mematahkan anggapan bahwa batasan maksimal kemampuan tubuh manusia ketika berlari menempuh jarak satu mil adalah empat menit lebih. Dunia mendadak tersadar setelah berabad-abad terkungkung keyakinan “empat menitan”.
Begitu banyak orang yang terjebak dalam keyakinan negatif hingga potensi terus terpendam, kemampuan terbelenggu. Begitu banyak orang yang menekan keinginan dengan alasan “tidak bisa”. Begitu banyak pula orang yang abai terhadap kelebihan sendiri karena takut gagal.
Ya, kita teranugerahi limpahan bakat, potensi, kekuatan, kemampuan, dan keunggulan. Sangat disayangkan kalau semua itu tak dikeluarkan, terbelenggu, hanya karena keyakinan negatif yang sama sekali tidak benar.
Anggrahini KD / Suara Merdeka

